Developed in conjunction with Joomla extensions.

Pernah merasa bosan karena tidak dipercaya? Yeah.. apa karena pernah berbohong sekali dua kali? Bukan berarti jadi pembohong atau penipu atau bahkan penjahaaaatt.. Well.., gara-gara sebuah musibah kecil dalam perjalanan mudik Bandung- Semarang.., harus urus nomerku yang udah dikenal sampai ke luar negeri itu ke Grapari Tel***nyet. Berkata jujur bahwa ini terkait pekerjaan.. eh eh kok masih aja diajukan banyak pertanyaan dan bisa terjawab semuanya tapi masih saja dipersulit.. Hellooooowww… ini tugas Negara looh.. Yup.. bahwa apa yang menjadi masalah pada akhirnya bukan sekedar dokumen apa saja yang harus disiapkan? Tapi masalah jati diri, pekerjaan dan seluruh kehidupanku seolah dipertanyakan. Apa-apaan?! Untungnya pulang ke Jakarta bisa diurus, nomerku kembali lagi..itu pun setelah melalui beberapa tahap “interogasi”.. Padahal Cuma urusan nomer HP tapi prosedurnya melebihi urusin birokrasi perijinan pemerintahan di indonesia yang terkenal paling rumit sedunia . Itupun bukan nomer penjahat looooh…well, ok, kalau tel...nyet berargumen mengenai kerahasiaan dan keakuratan data untuk menjaga privasi pemilik nomer. tapi apakah Tel***nyet tidak paham bahwa SOP atau aturan tidak harus diberlakukan secara kaku? ada yang namanya diskresi. Sehingga tidak ada alasan bila sudah ada jaminan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, logika dan nurani maka tel...nyet harus mengeluarkan diskresi untuk saya. Sungguh kebodohan dan ketidakpedulian  perusahaan ini tergambar dari sikap FOS (Front Office Supervisor) Cabang Semarang saat saya menjelaskan keurgensian nomer itu harus buru-buru diambil. “Ya kalau disalahgunakan.., silakan tuntut saja kami”. Edan. Ingin menyudahi saja urusan dengan provider ini. Namun apa daya.. masa Cuma gara-gara EGO... lalu para klien dan calon klien disana sini jadi kebingungan?!

 

Trust

Trust..sebuah judul buku Francis Fukuyama yang kubaca pada jaman kuliah.. yup referensi yang kuingat soal ekonomi itu aja yang nempel di kepala. Soalnya kagum dengan ramalannya yang jadi kenyataan saat ini, bahwa semakin lama, masyarakat akan semakin meningkat rasa percaya satu sama lainnya terutama dalam melakukan transaksi jual beli, barang ataupun jasa. Terbukti dengan adanya berbagai macam aplikasi berhubungan dengan hidup sehari-hari. Coba bayangkan seandainya tidak ada rasa trust pada pengguna aplikasi, baik itu sebagai pemilik mobil sekaligus supirnya dengan penumpang atau pelanggan aplikasi. Gak bakalan ada dong yang pesan Go Food malam-malam karena malas keluar rumah.., gak bakalan juga pak Goj8k mau anterin.. Gimana kalau itu order palsu..? Udah nombokin dulu.., malam-malam pula. Waduh rempong deh dunia per-online-an.

Maka ada kalanya orang kota jauh lebih memiliki trust tinggi daripada wong ndeso.. bisa jadi si ndeso pernah punya tingkat percaya tinggi.., memperlakukan orang lain di kota sebagaimana ia memperlakukan kawan sekampungnya. Nah.., suatu saat ia dikhianati. Maka si ndeso merasa sakit hati lalu malah lebih individualistis daripada orang kota aslinya. Si ndeso merasa tak perlu lagilah baik-baik pada orang lain di kota meskipun mereka sama-sama Warga Negara Indonesia.., sama-sama wong Jowo, sama-sama berambut hitam, sama-sama perantau. Nah.. , meskipun masih banyak persamaannya.., tetap saja rasa trust tadi tiba-tiba tiada.. sedih. Bagaimana kalau semua ndeso begitu? Hancur dunia digital.

Bicara soal dunia digital, BUMN Telkom , Ibu kandung dari Telkomsel baru saja merayakan ultahnya yang ke 52 dengan mengusung tema " menjadi lokomotif penggerak perekonomian digital"  sepertinya hanya akan menjadi slogan tahunan bila pelayanan Ndeso seperti gambaran di atas dan tarif Borju yang dibebankan kepada user mahal, sangat mencekik dan bahkan dianggap menipu dengan pembagian zona, pembagian waktu dan pilihan paket aneh lainnya  menyebabkan kemubadziran yang tentunya sangat merugikan konsumen. Untung boleh dan harus tapi apa tidak malu bila harus bersikap serakah dengan melakukan penindasan (kedzaliman) dan menipu sehingga merugikan pihak lain, user,rakyat Indonesia?

Rasa Percaya

Dari kata pertama sudah tahu kan artinya rasa? Ia berkebalikan dengan pikir. Rasa percaya, bukan pikir percaya datang dari hati. Kalau seseorang sudah tidak lagi memiliki hati.. maka ia dimungkinkan untuk kehilangan rasa percaya. Disaat era semakin maju.., trust meningkat karena baik penjual maupun pembeli sama-sama butuh barang atau jasa itu.. Disana sini masih saja ada yang kurang tingkat rasa percayanya. Maka jangan dulu bilang soal Pancasila. Jangan dulu bilang soal Negara Kesatuan Republik Indonesia kalau ternyata kemajuan dibarengi dengan rasa tidak percaya. Jangan bilang dulu ingin menjadi lokomotif penggerak perekonomian digital bila pelayanan masih ndeso dan biaya internet aja mahal.

Loncat lagi soal akurasi data dan kerahasiaan yang juga concern SPI sebagai social interest lawyer adalah Biasanya orang yang tidak bisa dipercaya akan ketahuan kebohongannya kok. Jadi tak usah khawatir. Tidak usah khawatir kalau rasa percaya itu tidak juga diberikan sepenuhnya.., masiiiih saja ada serangkaian “ujian” untuk mengetes seseorang (saya) apakah pembohong atau bukan? Apakah data kualitatif yang saya berikan dalam tulisan ala curhat emak-emak ini benar atau tidak? Silakan saja tinggal di tempat yang sama. Silakan saja melalui berbagai macam peristiwa hidup yang sama seperti yang saya alami kalau tidak percaya. Saya cuma berpegang teguh pada prinsip Islami yang saya tahu. “Hadapi fitnah dunia dengan takwa” Jadi kalaupun dulu pernah sekali dua kali pernah kurang bertakwa..ya sudah sekarang saja saatnya untuk lebih bertakwa. Takwa itu sendiri sudah banyak ujiannya dari Allah SWT. Tidak perlu ditambah-tambahi ujian susulan yang dibuat-buat oleh manusia kok. Soal lulus ujian atau tidak pun bukan urusan manusia looh.., kecuali anda-anda sudah merasa berhak jadi juri pada kehidupan orang lain.

Inilah lucunya “tugas Negara”.. meaningless. Kalau saja saya tidak ingat nasihat-nasihat orang tua.., beuuh mending pilih Negara lain saja untuk dibela.., untuk ditinggali, untuk dikasih sayangi.. (rk kusumawardhani)

 

Developed in conjunction with Joomla extensions.