Jaman Soeharto adalah masa-masa mengerikan bagi kebebasan berkespresi dan berpendapat. Tak ada yang berani bicara macam-macam soal presiden. Apalagi mem-bully kepala negara sebebas sekarang. Generasi Y dibesarkan dalam suasana angker begitu. Bahkan ngobrol santai dengan keluarga sendiri pun, gak boleh ngomongin Soeharto. Nanti ada alat pendengar rahasia di tiap rumah lalu kalau ada yang ngomongin jelek soal Soeharto langsung digerebek sama intel dimasukin penjara. Yeah.. syerem. Dikarunginlah, dibantailah.. just mention it. Sejak lengsernya Soeharto, semua seperti kebablasan. Banyak artikel yang bahas keburukan keluarga Cendana, SBY disimbolkan dengan kerbau seolah-olah tak berbuat apa-apa untuk negeri ini. Lalu saat ini yang terjadi banyaknya meme Jokowi dalam berbagai macam kasus, dianggap lelucon oleh netizen. Latest, konstetasi hot  pilkada DKI dengan cyber bullying SARA: Ahok China Kafir, Anies Arab Liberal, Agus Jawa Feodal.

Lalu kapankah Indonesia berhenti bully pemimpinnya?

Saat pengadilan benar-benar adil pada para pelaku koruptor

Saat hukum ditegakkan dengan tegas

Saat sembako mudah dan murah

Saat perumahan rakyat benar-benar terwujud

Saat setiap orang merasa puas dan bahagia pada kehidupannya

Pertanyaannya kemudian adalah:  

Siapakah yang dapat menjamin keterpuasan dan kebahagiaan setiap insan?

Penerimaan yang tulus pada siapapun  pemimpin di Indonesia sebenarnya sudah ada di tengah-tengah masyarakat. Mereka cenderung adem ayem, malah agak gak peduli soal politik. Lebih sibuk urus kehidupan masing-masing. Lalu siapa sebenarnya yang sibuk bully membully? Lawan politik, pengusaha yang punya kepentingan, barisan sakit hati, atau negara asing yang bisa saja berusaha membuat Indonesia kacau balau. Soalnya Indonesia sebenarnya punya banyak potensi. Kalau rakyat dan pemimpin gak kompak/ terlihat saling benci, tentu lebih mudah dikendalikan oleh mereka.

Pak presiden atau siapapun anda yang sedang bercokol diatas sana, kami cinta deh… no comment soal politik. Sing penting negara ini menjadi tempat aman dan nyaman untuk keluarga kami. Sebaliknya, mohon maaf bila kami terus cerewet berSUARA MAKI ( Mencerahkan Aktual Kritis Independen ) walau banyak ngomel, diusahakan No Cyber Bullying dalam website kami.