Developed in conjunction with Joomla extensions.

Anak. Seperti melihat duplikat dari diri dan pasangan. Saat ada hal-hal positif, dengan bangga dan PD-nya langsung merasa, “Ya seperti itulah saya”. Namun, sebaliknya saat ada hal yang agak menyebalkan, dalam hati berpikir, “Ah ini sih sifat pasanganku”. Saat dia berprestasi, dengan yakinnya berkoar-koar, “Ya itulah hasil didikan kami sebagai orang tuanya”. Saat anak beranjak remaja, tak semanis dulu malah mulai agak melawan, langsung berpikir, “Mungkin ini pengaruh lingkungan”, karena ia sudah mulai bergaul di tengah masyarakat. Padahal saat anak berprestasi atau berubah jadi nakal, semua adalah bentuk campuran hasil dari pengaruh lingkungan terkecil maupun lingkungan masyarakat yang lebih besar.

 

Miris rasanya saat anak yang bagai belahan jiwa, buah hati kita disakiti atau tersakiti. Apalagi ada kasus hingga menewaskan seorang gadis kecil, Angeline di Bali. Kisahnya difilmkan dengan judul, “Untuk Angeline” yang mulai tayang di bioskop Indonesia sejak 21 Juli 2016. Atau kasus terbaru 22 Juli 2016 diberitakan di media nasional, seorang ayah membunuh dua anak dan melukai istrinya karena tekanan ekonomi. Kasus lain, adanya vaksin palsu beredar di tengah masyarakat terungkap beberapa minggu ini, teganya pelaku menyebabkan bayi-bayi mungil menjadi tergadai masa depannya. Entah pengaruh negatif apa yang mungkin bisa muncul di kemudian hari akibat diberi vaksin palsu itu. Belum ada penjelasan apapun baik dari pemerintah maupun tenaga medis. Meski peredaran vaksin palsu sudah berlangsung selama 13 tahun.

Tanggal 23 Juli ini, Hari Anak Nasional mestinya diperingati bukan sekedar seremonial atau gegap gempitanya saja. Setiap keluarga, terutama orang tua mesti semakin menikmati waktu bersama anak. Bahwa si lucu itu dulu baru saja bisa ngoceh, sekarang sudah masuk sekolah lagi. Rasanya cukup jika setiap orang tua menikmati waktu bersama anak tanpa ada ekspektasi berlebih atau didikan terlalu keras. Sebab ternyata anak belajar dengan sendirinya bila dibimbing dengan kelembutan, terutama anak usia 1-6 tahun. Penerapan disiplin baru periode selanjutnya.

Sebagaimana himbauan pemerintah, di hari pertama sekolah, orang tua tak boleh abai pada keberadaan orang-orang yang terlibat dalam pendidikan anak di sekolah, guru, kepala sekolah, staf dan para petugas kebersihan dan keamanan di dalam sekolah. Bagi guru pun, anak didik layak dianggap seperti anak sendiri.

Berdasar kasus kekerasan pada Angeline, ibu angkat mulai bersikap kasar pada Angeline karena rasa iri dengki. Ibu angkat tak bisa menikmati kebersamaan dengan anaknya. Meski dalam pernyataannya, ia bela diri sayang pada Angeline, sebagai bukti selalu imunisasi sejak bayi. Dengan adanya kasus vaksin palsu, imunisasi saja bukan menjadi satu-satunya indikator seorang ibu (kandung atau angkat) menyayangi anaknya. Justru anak diimunisasi, sejak ada kasus ini, malah menimbulkan masalah. Selain itu, ada perbedaan perlakuan ayah angkat pada anak-anak lainnya. Semakin besarlah kecemburuan ibu angkat pada Angeline. Mudah-mudahan kasus Angeline menjadi cerminan bagi kita sebagai orang tua dan guru untuk memperlakukan anak-anak sebagaimana diri mereka sendiri. Tanpa berharap anak akan mampu berpikir dan berperilaku sesuai ukuran orang dewasa. Biarlah anak berperilaku dan bersikap mandiri sesuai usianya. Jangan lagi perlakukan anak-anak sebagai orang dewasa mini. Walau resikonya rumah berantakan, jadwal kacau balau, pikiran ibu dan bapak terpecah belah antara anak-anak dan pekerjaan. Resiko punya anak. (ratih karnelia)

 

Developed in conjunction with Joomla extensions.