Developed in conjunction with Joomla extensions.

Perempuan di bulan ini, dirayakan dengan cara Kartini berusaha melepaskan diri dari jerat feodalisme. Bahwa perempuan pada masanya tak punya pilihan, sulit terdidik dan harus diam di dalam rumah, terutama pada kalangan perempuan kelas bawah. Persis seperti kondisi sekelompok orang tersandera atau terjebak dalam reruntuhan. Tak dapat keluar dari situasi sulit karena dikendalikan pihak lain serta tak mengetahui kondisi dunia luar. Minta pertolongan pun bukan hal mudah.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Ma’ruf Amin mengungkapkan, pada tahun 2018 produk asal Indonesia harus sudah tersertifikasi halal dan sedikitnya ada 85 persen jenis produknya.

"Saat ini sudah ada perlindungan Undang-undang (UU) Jaminan Produk Halal yang mengatur, bahkan sudah ada daerah yang menjalankan UU tersebut, yaitu di Bangka Belitung,“ ujar Dr KH Ma'ruf Amin

Sementara itu, Kasubdit Produk Halal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Hj Siti Aminah SAg M.Pd.I memaparkan bahwa Kementerian Agama sedang menyiapkan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJH) yang nantinya berwenang untuk memberikan sertifikasi halal secara resmi di Indonesia. Sehingga, ke depannya MUI hanya berfungsi untuk memberikan fatwa halal atau haram.

"Selama ini, MUI yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikasi halal dan juga mengeluarkan fatwa. Sedangkan label atau logo halal dikeluarkan oleh BPOM. dan BPJH ini diharapkan sudah bisa didirikan pada tahun 2017 mendatang,” pungkasnya.

Sertifikasi halal dimaksud dalam berita ini bukan hanya produk makanan dan minuman saja, tapi juga pakaian dan sepatu. Sebab pernah ditemukan pakaian dan sepatu yang terbuat dari kulit babi.

Bagaimanakah opini para perempuan sebagai ibu-ibu muda menanggapi berita tersebut?

Jikalau anak tertimpa musibah terkecil, misalnya balita jatuh dari tempat tidur, orang tua yang baik pastilah menyesal mengapa tak jaga si kecil dengan lebih baik. Sederet pertanyaan mengapa lainnya. Namun musibah bukan untuk disesali atau dipertanyakan. Hanya ada dua sikap: memaafkan dan melanjutkan hidup. Sebelum bisa memaafkan, takkan bisa melanjutkan hidup. Terutama berusaha memaafkan diri sendiri. Sebab banyak sekali orang tua yang begitu dalam penyesalannya, murung tak bisa let it go hingga tak bisa move on kehidupannya.

Ucapan syukur karena saat ini masih diberi kesempatan untuk beribadah, bekerja dan amal bermanfaat bagi keluarga serta sesama makhluk Allah SWT. Sebab bisa saja setelah gerhana matahari tadi pagi, hidup kita berakhir sebab kiamat sebab tidak ada yang tidak mungkin bilamana Tuhan sudah berkehendak. The end sudah segala cita-cita. The end sudah usia. Lalu saat berada dalam dunia lain, ditanya: sudah dipergunakan untuk berbuat apakah waktu umur kita?

Berhubung saat ini peran saya yang dominan adalah Ibu Rumah Tangga, maka jawabannya:  waktu terpakai banyak untuk keluarga. Namun apakah waktu keluarga itu sudah sesuai dengan harapan agama sebagai pedoman hidup saya?

Gerhana matahari adalah peristiwa alam yang langka, muncul kembali puluhan tahun kemudian, bahkan ratusan tahun untuk lewat pada wilayah bumi yang sama. Sebagai muslim, tentu hal ini adalah sebuah bukti kebesaran Allah SWT. Gerhana matahari bagi saya pribadi adalah sebuah bentuk harapan dalam keputusasaan. Bahwa ternyata gelap 3 menit itu benar-benar terjadi  hanya 3 menit dalam seluruh waktu 24 jam. Begitupun masa-masa kegelapan hidup itu bisa saja hanya berlangsung sekejap dalam kehidupan kita. Tak pernah tahu.

Aksi teror meresahkan, masyarakat terutama ibu-ibu menjadi lebih concern soal pendidikan anak mereka. Bagaimanakah pendidikan yang baik agar anak selamat dari pemikiran radikal? Terlebih lagi, bebas dari melakukan aksi-aksi teror yang dianggap akan membahayakan orang banyak. 

Kali ini SPI akan menyoroti tema pendidikan, secara MAKI (Mencerahkan Aktual Kritis dan Independen). Sebab salah satu cara efektif untuk mengalihkan anak dari pemikiran radikal adalah dengan pendidikan ramah secara sosial, agama, dan nasional. Menurut Amich Alhumami, Peneliti Sosial, ada  3 (tiga) isu penting berhubungan dengan pendidikan, yakni: i) peningkatan mutu, ii) pemerataan akses, dan iii) efisiensi anggaran.

Ketiganya saat ini sedikit terlupakan secara nasional karena banyak isu-isu lain yang dianggap lebih “besar” seperti kebakaran hutan, terorisme atau kasus-kasus korupsi. Padahal saat kampanye pilpres, pendidikan dan kesehatan menjadi senjata utama untuk menarik simpati massa.

Developed in conjunction with Joomla extensions.