Developed in conjunction with Joomla extensions.

 

 

Merdeka! Merdeka atau Mati! Teriakan pejuang di masa penjajahan sebelum Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka. Dengan kondisi 95% rakyatnya buta huruf. Ya…kemerdekaan sudah disadari rakyat Indonesia sebagai suatu keniscayaan bahkan sebelum mereka bisa membaca. Jika di masa kejayaan Islam, dipimpin oleh pemimpin yang tak bisa baca tulis, maka Indonesia dipimpin oleh seorang terpelajar dengan rakyat yang tak bisa baca tulis. Lalu mengapakah keduanya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka bahkan sempat berjaya?

Apa arti merdeka sesungguhnya bila ternyata bisa terjadi di tengah masyarakat yang belum melek huruf, bahkan belum juga mapan secara ekonomi pada jamannya?

Anak. Seperti melihat duplikat dari diri dan pasangan. Saat ada hal-hal positif, dengan bangga dan PD-nya langsung merasa, “Ya seperti itulah saya”. Namun, sebaliknya saat ada hal yang agak menyebalkan, dalam hati berpikir, “Ah ini sih sifat pasanganku”. Saat dia berprestasi, dengan yakinnya berkoar-koar, “Ya itulah hasil didikan kami sebagai orang tuanya”. Saat anak beranjak remaja, tak semanis dulu malah mulai agak melawan, langsung berpikir, “Mungkin ini pengaruh lingkungan”, karena ia sudah mulai bergaul di tengah masyarakat. Padahal saat anak berprestasi atau berubah jadi nakal, semua adalah bentuk campuran hasil dari pengaruh lingkungan terkecil maupun lingkungan masyarakat yang lebih besar.

Pendidikan itu apa, bagaimana dan mengapa ada serta perlu? Saat kejahatan luar biasa seperti pemerkosaan dan pembunuhan sanggup dilakukan oleh makhluk yang menyebut dirinya manusia, pendidikan menjadi seperti ilusi. Manusia sebagai pelaku seperti hanya mengenal bahasa kekerasan, bukan cinta. Guru ibarat ilusionis yang punya trik-trik untuk buat kagum penontonnya, walau trik itu sebenarnya bisa dipelajari semua orang dengan latihan. Lalu murid, apakah seperti benda mati yang menjadi bagian dari ‘permainan’ sang guru? Saat menjadi murid, saat menjadi guru, pemikiran saya masih idealis bahwa pendidikan ada memang untuk kebaikan seorang manusia. Pendidikan memberi aturan bagaimana selayaknya seseorang harus berperilaku, hidup dengan rutinitas dan harmonis dengan sesama manusia. Namun, setelah melihat dan mendengar adanya kasus pemerkosaan dan pembunuhan dilakukan para pelajar, rasanya makna pendidikan itu semakin kabur. Ilusi.

Setiap kisah romansa yang abadi pastilah ada bumbu konflik didalamnya. Romeo & Juliet salah satu yang jadi patokan sebuah kisah asmara. Walau cerita itu fiktif. Ada perebutan cinta. Adu cinta antara cinta keluarga dan cinta pada kekasih. Jadi mari bahasakan konflik dengan kata ‘adu cinta’ saja. Sebab terdengar lebih rasional daripada sekedar konflik yang terkesan rusuh, tak punya tujuan, mulai dari kasak kusuk adu mulut, adu fisik sampai adu strategi. Ya.. adu cinta ini masih berlaku hingga kini. Bahkan lepas dari ranah pribadi menuju ranah publik. Rebut-rebutan harta, tahta dan wanita adalah bukti bahwa manusia ini memang menuhankan cinta, maka adu cinta hadir setiap hari dalam perjalanan hidupnya.

1 Juni, Hari Kesaktian Pancasila. Hari dimana Pancasila menjadi berhala orang Indonesia. Bahwa kelima prinsip dasar bernegara harus dipatuhi, kalau tidak suka, konsekuensinya silakan pilih: pergi ke luar negeri atau diasingkan. Kesaktian Pancasila ini merajai pola pikir orang Indonesia, bahwa kalau tidak mengikuti aturan dasar, bukanlah orang Indonesia.

Peristiwa yang terjadi di Bengkulu dapat dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa karena pemerkosaan dilakukan oleh 14 orang (12 sudah tertangkap, 2 masih buron) pada anak sekolah berusia 14 tahun. Kondisi korban, Yuyun saat ditemukan sangat mengenaskan dengan tangan dan kaki terikat, kemaluan dan anus sudah menyatu. Korban ditemukan di lereng curam, 3 hari setelah kejahatan dilakukan.


Indonesia berduka karena berita ini mulai ramai bertepatan Hardiknas walau kejahatan sudah dilakukan sejak sebulan lalu. Ada empat hal yang patut disoroti terkait kasus Yuyun, yaitu:

Developed in conjunction with Joomla extensions.