Developed in conjunction with Joomla extensions.

Jelang demo 4 November 2016, berbagai spekulasi bermunculan. Sepertinya Jokowi berusaha meredam isu-isu tersebut dengan bertandang ke rumah Prabowo, lalu bergaya bak koboi sambil naik kuda. Televisi swasta, entah mengapa, menyebut pertemuan Jokowi- Prabowo, 31 Oktober 2016 sebagai ‘Diplomasi Kuda’. Mestinya, ‘Diplomasi Koboi’, dalam arti perbincangan sosial politik yang disampaikan dengan gaya santai, penuh kelakar ala Jokowi pada Prabowo, mantan rivalnya di Pemilu 2014.

Kapolda Metro pun mengeluarkan Delapan Maklumat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terorisme ataupun kekerasan yang dapat menyebabkan korban jiwa.

Mengapa demo 4 November, Aksi Bela Islam II ini begitu penting dan dianggap sebagai momentum, baik bagi para elite politik, polisi maupun para tokoh keagamaan?

Para pemuda masa kini, keluar dari kampung masing-masing, merantau cari ilmu atau kerja. Kehidupan mereka tentu lebih baik daripada para pengungsi Suriah yang terpaksa meninggalkan segala miliknya di kampung halaman dengan terpaksa: cinta, keluarga, rumah, pekerjaan, bahkan masa depan! Negara-negara Eropa bersedia menampung mereka, terutama Jerman terkecuali Inggris. Saat inilah menjadi ujian bagi muslim sebagai pengungsi untuk membuktikan pada dunia, wajah Islam yang sesungguhnya. Bahwa muslim bukan sekedar menjadi korban walau status mereka sebagai pengungsi. Beberapa kisah mengharukan seputar pengungsi Suriah beredar di media elektronik maupun media sosial. Berbagai kisah seolah makin menguatkan bahwa hidup ini sangat berharga untuk diperjuangkan: seorang bapak berjuang menjual beberapa potong bolpoin demi menyambung hidup diri, istri serta keempat anaknya.

Ada pula kisah seorang anak perempuan begitu ketakutan melihat kamera foto yang dikiranya senjata, dengan spontan ia lantas mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Namun, adakah muslim Suriah di hati kita? Dapatkah kita menyerah setelah mendengar kisah-kisah inspiratif mereka?

Berbagai peristiwa terjadi di awal Oktober saat Presiden mendatangi Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (11/10) sore, setelah kepolisian menangkap tangan sejumlah pegawai kementerian tersebut karena diduga menerima suap terkait izin perkapalan dan izin melaut. Sebagai rakyat kecil yang seringkali menjadi korban pungli, tentu langkah presiden ini diapresiasi dengan lega. Berharap pungli benar-benar musnah dalam birokrasi pemerintahan Indonesia. Sehingga, publik dilayani dengan baik, cepat dan tepat sebagaimana mestinya. Tentu tanpa biaya-biaya tambahan bila ingin dilayani dengan cepat sebab memang sudah seharusnya pelayanan publik tidak membutuhkan waktu lama. Keberadaan oknum, calo dan biro jasa** seringkali dipersalahkan juga dengan adanya peristiwa ini.

Hujan di hari Minggu membuat suasana menjadi lebih mellow. Apalagi kalau Indonesia baru saja menambah hutang yang dianggap sebagai pinjaman oleh yang terhormat Bapak Presiden. Barangkali kalau hutang perlu dibayar pakai uang, pinjaman bukan pakai uang. Entahlah. Pokoknya menurut Bapak Presiden, hutang dan pinjaman itu sesuatu yang berbeda. Beda tapi tak sama? Barangkali Bapak Presiden punya pikiran yang lebih maju dari kami, rakyat yang cuma tahu Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, kedua bahasa itu dipakai dalam berbagai transaksi yang melibatkan uang atau hutang. Berhubung Bapak Presiden pengusaha sukses yang sudah go international sampai ke U.S, pastinya paham Bahasa Inggris dan tahu dollar. Dalam Bahasa Inggris itu memang ada dua istilah, loan (pinjaman) dan debt (hutang). Memang, kalau pinjam uang dengan hutang uang itu serupa tapi mirip. Pinjam uang belum tentu bunga berbunga. Kalau hutang juga belum tentu bunga berbunga. Entahlah, Bapak Presiden punya tingkat ngeles setingkat dewa yang tak mungkin dipahami oleh kami, rakyat kecil yang tahunya kalau pinjam uang ya harus dikembalikan. Apalagi hutang uang.

Lahan dialihfungsikan menjadi perumahan itu biasa, justru semakin menjamur di daerah Serpong dan sekitarnya. Entahlah status lahan sebelumnya apakah memang daerah resapan air yang terlarang untuk perumahan atau bukan. Jelasnya, beberapa developer perumahan yang berada di wilayah Serpong dan sekitarnya seperti menebus ‘kesalahan’ dengan membuat taman-taman diantara rumah-rumah yang berderet. Dus, keberadaannya menjadi satu bagian dengan keberadaan rumah-rumah pun jadi tanggung jawab warga untuk turut menjaganya. Meskipun, tanggung jawab terbesar tetap ada di tangan pengelola.

Developed in conjunction with Joomla extensions.