Developed in conjunction with Joomla extensions.

Pada hari buruh yang diperingati setiap 1 Mei, ada tiga tuntutan yang selalu diajukan para buruh karena belum terpenuhi. Tuntutan itu adalah hapus outsourcing dan sistem magang, jaminan sosial pekerja, dan tolak upah murah.

Mama day! May Day! Jika hari buruh menjadi penting bagi para buruh, maka apa pentingnya May Day bagi para ibu rumah tangga? Dapatkah ibu rumah tangga pun menjadi bagian dari May Day ini ataukah ibu rumah tangga tidak dapat disebut sebagai buruh? Mengingat ‘kantornya’ tidaklah semegah gedung-gedung tinggi di ibukota, tidak sepekat pabrik-pabrik, tidak juga sesempit kubik-kubik…

Sebagai ibu rumah tangga baru yang beberapa tahun belakangan tidak lagi menjadi buruh (nguli alias kerja sama orang) dengan harapan ketidakenakan yang biasanya dialami dapat diminimalkan atau hilang sama sekali. Ternyata, pengalaman pribadi hampir empat tahun belakangan ini bekerja sebagai social interest lawyer khusus pengurusan dokumen pun banyak mengalami ketidakenakan ( meskipun lebih banyak enaknya ). Kerja di perusahaan orang lain atau kerja sendiri ternyata masing-masing ada lika likunya, suka dukanya.

Sumber Gambar bantenonline

Perdebatan layak atau tidaknya Kartini menjadi Pahlawan Nasional Indonesia ramai di sosmed, bahkan ada message whatsapp yang mempertanyakan status pahlawan itu untuk Indonesia atau Belanda? Lalu membandingkan Kartini dengan tokoh-tokoh perempuan dari daerah lain, misalnya Cut Nyak Dien (Aceh) dan Dewi Sartika (Bandung). Kedua tokoh ini biasanya menjadi pembanding Kartini malah dianggap lebih berjasa bagi perempuan Indonesia karena Cut Nyak Dien anti Belanda, sikapnya tegas. Sedangkan Dewi Sartika punya aksi nyata dengan membangun sekolah Kautamaan Istri dengan biaya pribadi, mengajar selalu on time  setiap jam 6 pagi. Ditunggu murid-muridnya.

Sumber Gambar biografiku

Jual beli barang dan jasa boleh dilakukan perempuan, selama hal itu masih dalam aturan-aturan yang tidak merugikan penjual maupun pembeli. Mengapa perempuan juga boleh? Syaratnya, perempuan masih bisa menjaga kehormatan walau bekerja di luar rumah serta sebab masyarakat dirasa membutuhkan jasa perempuan di bidang tersebut. Nilai jasa punya nominal berbeda-beda. Setiap profesi ada standarnya. Untuk pegawai pemerintahan, tentu nominalnya sudah baku. Maka profesi sebagai pegawai pemerintahan diperuntukkan untuk mereka yang mau mengabdi. Namun, pengabdian ini, bagi sebagian pegawai pemerintah yang barangkali merasa kurang dihargai di masyarakat, diberi nilai berlebihan. Hal ini dalam konteks pengalaman mengurus surat yang berhubungan dengan birokrasi pemerintah pada oknum di Kementrian Hukum dan HAM. Kami menagih janji kinerja dan reformasi hukum di Kemenkumham.

Sumber Gambar movieweb

Pertama kali dengar dan mulai cari info soal senjata pemusnah massal ini saat dimintai masukan untuk naskah pidato Kapolri untuk rapat dengan Menkopolhukam. Kaget. Apa masih ada ambisi untuk membunuh ribuan orang, saat dunia begitu damai? Peperangan di beberapa belahan dunia saja, apa perlu melebar hingga Indonesia turut terlibat didalamnya? Lebih ekstrim lagi, apakah Perang Dunia Ke-3 akan segera dimulai?

Tulisan ini tentu tidak akan membahas masukan kami pada Kapolri sebab itu sifatnya rahasia. Namun, beberapa peristiwa nasional maupun internasional membuktikan bahwa senjata pemusnah massal itu memang ada dan serius dipergunakan untuk mengeksekusi sebuah bangsa ataupun menyerang orang per orang. Sebut saja Suriah. Sehingga jelas dua blok berbeda di dunia yang pro kontra dengan adanya pembantaian di Suriah. Negara-negara yang tidak setuju pembantaian itu balas serang dengan bom terukur menuju markas persenjataan Suriah. Sedangkan negara-negara yang tidak setuju (termasuk Indonesia) meminta ada kejelasan secara internasional soal serangan balik ke Suriah mengingat intervensi senjata ke negara berdaulat harus ada keputusan sidang PBB.

Sumber Gambar tribunnews

Jenasah seorang nenek  bernama Hindun di Jakarta ditolak untuk disolatkan di sebuah musholla yang berspanduk anti pendukung Ahok. Pada hari ini, 11 Maret 2017, paslon nomer 3, Anies- Sandi akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya tidak pernah mendukung aksi penolakan jenasah pendukung Ahok.

Semua ini adalah soal keyakinan. Bahwa keyakinan seseorang dengan orang lainnya tak pernah dapat dipaksakan. Keyakinan soal paslon dalam Pilkada, soal kematian dan soal Tuhan manusia. Ada seloroh yang beredar di sosial media, “Ya Allah… matikan aku dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik) dan di luar tanggal Pilkada” untuk menunjukkan kekhawatiran yang besar seseorang akan ditelantarkan saat menjadi mayat hanya karena ia memilih paslon yang salah menurut kelompok tertentu. Benar bahwa seseorang dapat diketahui keyakinannya dari kolom agama yang tertera di KTP. Namun, soal hati? Siapakah yang dapat mengetahui hakikatnya? Allah Maha membolakbalikkan hati. Allah pulalah Sang Pemberi Hidayah. Bahkan tanpa disadari orang yang bersangkutan.

Adapun musyrik dapat diartikan menilai manusia lainnya dengan ukuran-ukuran duniawi. Kafir pun dapat diartikan sebagai orang mengingkari nikmat-nikmat-Nya. Bagi penganut keyakinan ini, QS. Al Baqarah ayat 62 menjadi patokannya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati”.

Sumber Gambar 'Hidayatullah'

Developed in conjunction with Joomla extensions.