Developed in conjunction with Joomla extensions.

NASA USA pada tanggal 27 November 2018 mendaratkan robotnya di Mars. Media nasional menyebutnya: bukti kecerdasan Amerika. Jadi kita yang belum bisa kirim roket ke Bulan atau Mars, belum bisa dikatakan cerdas. Saya tidak lanjut baca artikelnya. Sudah down duluan. Merasa tidak menjadi bagian dari sejarah karena negaraku bukan negara yang kirim roket ke Bulan atau Mars. Berita itu positif tentu saja. Dalam arti kemajuan peradaban manusia. Mars seringkali disebut-sebut sebagai calon tempat baru bagi umat manusia karena kondisi fisik dan geografisnya menyerupai bumi, ada atmosfer yang kasih harapan manusia bisa hidup di sana. Pun orang-orang yang akan tinggal disana cuma orang-orang yang mampu "membayar harganya". 

Terdengar seperti judul lagu? Memang. Lagu jadul. Jelang Pilpres 2019, bila kamu dukung salah satu capres ibarat prajurit dalam perang. Mati atau hidup, menang atau kalah.. namamu akan dikenang. Oleh keluarga, kerabat, teman yang kenal saja. Ibarat pahlawan tak berwajah: begitulah kamu dan kami (SaPI?!). Bagaimana kita sikapi penandatanganan PP No 43 tahun 2018 oleh Presiden Jokowi terkait reward (maksimal Rp 200 juta) bagi pelapor tindak pidana korupsi awal bulan ini apakah sekedar pencitraan jelang Pilpres atau peluang bagi perubahan di negeri ini?

"Mobil mewah bukan barang penting bagi republik ini saat ini" statement ini keluar dari Menkeu Indonesia, Sri Mulyani hari Rabu, 5 September 2018. Masyarakat yang memiliki mobil mewah akan dikenakan pajak 190 persen. Yup. Thanks to you guys yah.. buat para penggemar mobil mewah. Berkat anda rupiah melemah terhadap dollar. Berkat anda juga pajak barang mewah menjadi tinggi. 

Dilematis hidup di masa sekarang? Di satu sisi saat ingin menampilkan prestasi, membeli barang mewah menjadi kebutuhan (tersier). Di sisi lain hidup sederhana sesuai tuntunan Islam dengan resiko akan dipandang sebelah mata karena seolah tak giat bekerja apalagi berprestasi. Yup. Beginilah resiko kalau prestasi melulu dilihat dari kebendaan. 

Lebih militan! Dua kata itulah yang terlinyas di kepalaku begitu denger ada gerombolan emak-emak mendukung salah satu paslon. Sebagaimana militannya emak-emak di jalanan yang kasib sen kanan belok ke kiri atau bahkan gak kasih sen tiba-tiba belok ambil tikungan tajam! Cocok kali tipikal emak-emak untuk dunia politik.. so unpredictable.. pihak lawan bakal kebingungan menentukan strategi. 

Bila kemerdekaan bagi perempuan adalah memutuskan sesuatu atas kehendaknya sendiri, maka pada tahun ini saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games: siapa sajakah yang patut berbangga atas kemerdekaan dirinya? Apakah perempuan Indonesia sudah mampu mengaplikasikan nilai-nilai sportivitas layaknya atlet dalam lapangan tanding?

Developed in conjunction with Joomla extensions.