Developed in conjunction with Joomla extensions.

Terdengar seperti judul lagu? Memang. Lagu jadul. Jelang Pilpres 2019, bila kamu dukung salah satu capres ibarat prajurit dalam perang. Mati atau hidup, menang atau kalah.. namamu akan dikenang. Oleh keluarga, kerabat, teman yang kenal saja. Ibarat pahlawan tak berwajah: begitulah kamu dan kami (SaPI?!). Bagaimana kita sikapi penandatanganan PP No 43 tahun 2018 oleh Presiden Jokowi terkait reward (maksimal Rp 200 juta) bagi pelapor tindak pidana korupsi awal bulan ini apakah sekedar pencitraan jelang Pilpres atau peluang bagi perubahan di negeri ini?


Suara MAKI    23

Lebih militan! Dua kata itulah yang terlinyas di kepalaku begitu denger ada gerombolan emak-emak mendukung salah satu paslon. Sebagaimana militannya emak-emak di jalanan yang kasib sen kanan belok ke kiri atau bahkan gak kasih sen tiba-tiba belok ambil tikungan tajam! Cocok kali tipikal emak-emak untuk dunia politik.. so unpredictable.. pihak lawan bakal kebingungan menentukan strategi. 


Suara MAKI    18

"Mobil mewah bukan barang penting bagi republik ini saat ini" statement ini keluar dari Menkeu Indonesia, Sri Mulyani hari Rabu, 5 September 2018. Masyarakat yang memiliki mobil mewah akan dikenakan pajak 190 persen. Yup. Thanks to you guys yah.. buat para penggemar mobil mewah. Berkat anda rupiah melemah terhadap dollar. Berkat anda juga pajak barang mewah menjadi tinggi. 

Dilematis hidup di masa sekarang? Di satu sisi saat ingin menampilkan prestasi, membeli barang mewah menjadi kebutuhan (tersier). Di sisi lain hidup sederhana sesuai tuntunan Islam dengan resiko akan dipandang sebelah mata karena seolah tak giat bekerja apalagi berprestasi. Yup. Beginilah resiko kalau prestasi melulu dilihat dari kebendaan. 


Suara MAKI    45

Bila kemerdekaan bagi perempuan adalah memutuskan sesuatu atas kehendaknya sendiri, maka pada tahun ini saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games: siapa sajakah yang patut berbangga atas kemerdekaan dirinya? Apakah perempuan Indonesia sudah mampu mengaplikasikan nilai-nilai sportivitas layaknya atlet dalam lapangan tanding?


Suara MAKI    52

Baru saja baca buku tipis yang belum juga selesai dibaca.. sudah ingin komentari dengan tulisan ini. Sebuah tantangan untuk berbahagia walau berpolitik. Maksud buku ini memang politik praktis. Namun kehidupan orang tua (a.k.a dewasa) apapun bentuk hubungan yang dijalani rasanya terus berpolitik. Bukan dalam artian jahat, tapi mikir strategi ini itu. Ada teori-teori sosial yang menjelaskan soal ini sebetulnya. But kalo urusan politik dan bahagia yang dimaksud dalam buku ini bertentangan. Sebab politikus berkubang dalam hal-hal yang tidak membahagiakan: memikirkan peristiwa yang bahkan belum terjadi, memikirkan kemenangan setiap saat, mencari-cari kesalahan orang lain atau bahkan mengkambinghitamkan. Bagaimanapun bisa berbahagia jika berpolitik? Apalagi jelang Pilpres 2019.. semakin memanaslah hubungan sosial yang berbeda pilihan politik. Walau tak disengaja, kecenderungan pro kontra salah satu calon kadang muncul juga. Bahkan dalam obrolan sehari-hari.

Menariknya, politikus berbeda dengan negarawan walaupun berada dalam "arena" yang sama. Namun poli'tikus' terdengar lebih kotor daripada negarawan yang heroik. Bila politikus masih ada.. politik tak mungkinlah dilirik ibu-ibu muda apalagi hidup di jaman Orde Baru yang menggambarkan kotornya politik dalam masa guling menggulingkan presiden dengan atau tanpa 'kambing hitam' (PKI or mahasiswa di Peristiwa Trisakti sebagai penyebab jatuhnya masa kepemimpinan orang nomer satu negeri ini). 

Masyarakat tak berpolitik bisakah yang berarti mandiri tanpa Negara? Barangkali karena alasan kotor itu maka menghindari si huruf "P". Tapi tanpa politik dan negara, kita juga takkan menemukan tokoh2 negarawan yg legowo menyerahkan nafsu kuasa demi negeri tercinta, pengorbanan demi masy yg lbh byk drpd egonya. Ego kemenangan yg cenderung menghalalkan segala cara. 

Sebut saja ada masy tanpa negara.. tetap akan membesarkan anak2 yg hidup dalam sebuah kompleksitas kecuali dunia sepenuhnya serba mudah.. digital yang byk dikelola pihak swasta.. maka negara menjadi  kurang "peminat". Buat apa byr pajak kalau fasilitas jalan, misalnya sudah lebih dulu dihandle pihak swasta sbg bentuk CSR mereka? Seperti banyak terjadi di pinggiran Indonesia yg didominasi perusahaan2 tambang. 

Maka pemerintah berpacu dengan inisiatif pihak2 swasta yang berkesadaran dengan pihak CSRnya. Semakin byk pihak swasta bermodal besar, pemerintah semakin byk berhutang demi mempertahankan negara ini dari "diambil alih secara halus" oleh perusahaan2 itu. Lalu.. bagaimana caranya tetap ada bangsa.. tetap ada negara di usia 73 tahun kemerdekaan ini bahkan nanti di usia ke 100 tahun? Apakah bendera pemersatu kita? Apakah sebutan NKRI? Bahasa? Pakaian? Fisik? Ras? Sosial ekonomi? Lagu kebangsaan? Public enemy? Presiden sebagai public enemy?

Silakan beropini... 😆


Suara MAKI    39

Ironisnya.. peristiwa teror dan bom terjadi di bulan Mei. Bulannya peringatan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Lantas.. menjadi pertanyaan mendasar saat ini: apa harapan dari sebuah lembaga pendidikan (keluarga dan sekolah)? 

Pertanyaan ini mudah saja jawabnya tapi mungkin ada banyak versi atas dasar pengalaman orang yang berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa pendidikan terbukti berhasil suatu saat nanti bila anak-anak dewasa bisa mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya, mampu bersosialisasi dengan baik, atau memiliki banyak materi sebagai indikator sukses. Nah.. pelaku teror dan bom umumnya terbukti memiliki hampir seluruh kriteria berhasil sebuah lembaga pendidikan. Namun mengapa justru memilih untuk melakukan bom bunuh diri? 
 
Sumber Gambar: kompas

Suara MAKI    131

Hiks! 

Kopi itu pahiiiit, Jendral!
Faith Coffee itu pahiiiittt..

Yup. Orang ke mesjid disiram air keras. Orang ke gereja dibom. Peristiwa di Mako Brimob. Peristiwa pengeboman tiga gereja di Surabaya. Suasana gelap. Hitam. Ngeri. Sedang terjadi didalam negeri.


Sumber Gambar: belimitless


Suara MAKI    90

Lokasi

Bukit Dago, Bogor 16340

Kalibata, Jakarta 13640

 

Kontak

PIN BBM 580DC5D9

Developed in conjunction with Joomla extensions.